Pernikahan Dini

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah. Umumnya, istilah syabab diterjemahkan sebagai “pemuda.” Berapakah usianya?
Ustadz Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah.
Kini manfaat menikah di usia muda sebagaimana perintah Rasulullah telah banyak terbukti.
Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)
Pertama, terjaga dari dosa.
Menikah dini lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.
Kedua, lebih bahagia
Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”
Ketiga, lebih puas dalam berjima.
Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”
Keempat, emosi lebih terkontrol.
Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Kelima, lebih dekat pada kesuksesan.
Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. .
Keenam, baik bagi anak-anak.
Menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat belum mapan secara ekonomi berarti dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan orangtua. Jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.
Ketujuh, ladang pahala.
Dengan menikah, seseorang mendapatkan ladang pahala yang lebih luas. Jika biasanya ia hanya mendapatkan pahala dari ibadah yang dilakukannya, dengan menikah seorang muslimah mendapatkan pahala dari berbakti kepada suami. Sang suami pun demikian, ia mendapatkan pahala atas kebaikannya pada istri dan anak-anaknya. Bahkan, disebutkan dalam hadits, nafkah yang diberikannya kepada istri dan keluarganya pun termasuk sedekah.

#day7 #gamelevel11 #tantangan10hari #kuliahbunsayiip #fitrahseksualitas #tarbiyahjinsiyah #sogasquad

Sex Education untuk Anak Dewasa

Ketika anak sudah memasuki usia baligh, maka selain mengajarkan permulaan surat An Nur yang telah kita bahas di depan, orangtua mesti mengajarkan juga larangan untuk mendekati zina.
Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa ada seorang pemuda dari suku Quraisy yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”
Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”
Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” sahut pemuda itu.
“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.”
Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.
“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”
“Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”
“Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”
“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”
Selain itu orangtua juga harus menyampaikan sanksi berbuat zina dan penegakan hukum had.
Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allâh , jika kamu beriman kepada Allâh dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nûr/24:2-3]

#day6#level11#kuliahbunsayiip#fitrahseksualitas#tarbiyahjinsiyah#tantangan10hari

Tata Cara Mandi Janabah

Mengajarkan tata cara mandi janabah
Ketika anak telah beranjak dewasa, tentu mereka harus tahu tata cara bersuci dari hadats besar. Hal ini harus diajarkan sendiri oleh kedua orangtuanya. Supaya anak tidak mencari tahu sendiri lewat youtube atau internet, sehingga memungkinkannya terpapar pornografi. Ibu dapat membagikan pengalamannya saat bersuci pada anak perempuannya, sedangkan ayah dapat mengajarkan hal ini pada anak laki-lakinya.
Bagaimana tata cara mandi janabah dalam agama Islam?
1. Membaca basmalah, dengan niat menghilangkan hadats besar melalui mandi. Selanjutnya membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
2. Setelah itu beristinja’ dan membersihkan segala kotoran yang terdapat pada kemaluan.
3. Berwudhu seperti ketika hendak mengerjakan shalat
4. Membasuh kepala dan kedua telinga sebanyak tiga kali
5. Selanjutnya menyiramkan air ke seluruh tubuh. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah RA, dimana dia pernah menceritakan :
“Apabila Rasulullah saw hendak mandi jenabat beliau memulai dengan membasuh kedua telapak tangan sebelum beliau memasukkannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluan dan berwudhu sebagaimana hendak melaksanakan shalat. Lalu beliau menyela-nyela rambutnya dengan air. Setelah itu, beliau menyiram kepalanya tiga kali dan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.”(HR. Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya)

#day5#gamelevel11#kuliahbunsayiip#tantangan10hari#fitrahseksualitas#tarbiyahjinsiyah#sogasquad

Vote Cover Buku Antologi Kami Ya

IMG-20180912-WA0010

Haaaii ayah bunda semua..
Bagaimana hari ini?
Semoga penuh semangat dan keceriaan ya.
.
Ada kabar gembira yang kami bawa hari ini nih..
Buku antologi rumbel literasi @IPJOGJA hasil dari workshop menulis bersama @dkwardhani AKAN SEGERA TERBIT.
😍😍😍
.
Ayah Bunda yang sudah nungguin lahirnya buku ini, silakan bersiap diri untuk beraksi dengan ananda tercinta ya 😍.
Berbagai rangkaian cerita seru, fakta unik, dan pojok aktivitas anak dari beberapa penulis yang kejteeh, nggak sabar untuk segera dieksekusi bersama niih buund…
.
Yeeey… 😍😍.
.
Naah ayah bunda.. Sebelum buku ini benar2 lahir, tolong bantu doong #VOTECOVER buku ini 😉 mumpung masih bukaan satu ni.. Yuk ajak teman-teman lainnya juga, agar semakin banyak yang bisa ikut menentukan ✊
.
.
Nomor berapa sih yang paling ketjeh menurut ayah bunda? Boleh looh ditawarkan putra putrinya.. mana sih yang menurut mereka paling kereen 😎
.
Jangan lupa vote beserta cerita mengapa cover itu yang dipilih ya ay buund biar semakin daleeem maknanya bagi kami.
.
Happy voting ayah bundaa 💕
.
.
Silahkan vote cover pilihannya ke sini ya
⬇⬇⬇
http://bit.ly/VoteCoverHKHE
.
.
_Sssttt… Ada Voucher Diskon 25% untuk pembelian bukunya bagi dua orang dengan cerita terbaik loh_
.
.
Kami tunggu sampai tanggal 14 September 2018.
Mamaciih sudah vote yaah 🙏
.
.
.
.
#votecover #saveearth #happykids #earthchild #happykidsproject
#bukuedukasianak #bukudongenganak #bukuaktivitas
#bukuanakberkualitas
#bukuanakbagus
#bukuanakkeren

Sebaik-baik Bekal Pernikahan Adalah Takwa

IMG_20180627_022027

 

Sebaik-baik bekal pernikahan adalah takwa, ungkapan ini amat benar adanya. Karena kehidupan pasca pernikahan itu tidak selalu lurus dan mulus. Maka ketika kita memandang ikatan pernikahan ini dengan kaca mata takwa, insya Allah yang terlihat adalah karunia dan kebesaran dari Allah swt.
Sepuluh tahun yang lalu kami bertemu dalam ikatan pernikahan. Lewat proses ta’aruf yang hanya berjeda 2 bulan dari tanggal pernikahan. Benarlah kata ustadz Cahyadi Takariawan bahwa sepuluh tahun itu terasa hanya sebentar bagi dua insan yang sedang jatuh cinta. Rasanya baru kemarin akad, tahu-tahu sekarang sudah akan memiliki anak 4.
Seperti halnya pasangan yang lain. Kami pun telah mengalami suka dan duka bersama selama mengarungi bahtera pernikahan ini. Kami pun mengalami fase-fase pernikahan seperti yang dialami pasangan lain.
Fase romantic love di awal pernikahan yang membuat kami saling mencintai tanpa mempedulikan apapun jua. Hingga kekurangan pasangan terlihat indah di mata masing-masing.
Kami juga mengalami fase distress and disappointment dimana kami akhirnya ‘sadar’ dengan kekurangan satu sama lain, dan mulai menyesuaikan diri. Pada fase distress dan disappointment ini lagi-lagi kami merasa berhasil melaluinya karena bekal takwa kepada Allah swt. Kami tidak menuntut pasangan untuk menjadi sempurna seperti apa yang kami harapkan. Kami menerima pasangan seraya mendoakannya agar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Doa adalah senjata yang paling ampuh. Ketika anda mendapati kekurangan pasangan dan tidak menyukainya, maka doakanlah ia. Bersungut-sungut atas kekurangan pasangan tapi anda tidak mendoakannya, maka jangan harap ia bisa berubah dengan mudah. Allah lah yang memegang hati setiap insan, maka amat mudah bagi Allah untuk mengganti keburukan itu dengan kebaikan.
Saya sendiri merasakan. Saya yang sekarang bukanlah saya sepuluh tahun yang lalu. Saya juga merasakan suami saya saat ini jauh lebih baik dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Sehingga kami pun makin merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam pernikahan kami. Siapa lagi yang menjadikan pasangan kita makin shalih kalau bukan Allah swt. Karena itu jangan lupakan doa untuk pasangan kita, utamanya di waktu-waktu mustajabah.
Setiap rumah tangga memiliki ujian sendiri-sendiri. Ada teman kami yang diuji dengan kondisi anak yang mengalami kebutaan sejak lahir, tentu tidak mudah mendidik anak dengan kebutuhan khusus, namun saya melihat bahwa teman saya ini justru mampu menginspirasi pasangan lain yang diuji dengan hal yang sama. Ada juga teman kami yang harus berpisah dengan suaminya dan menjadi single mom untuk waktu yang cukup lama, namun lagi-lagi saya melihat bahwa teman saya ini mampu menginspirasi ibu-ibu yang lain dalam hal yang positif. Alhamdulillah saat ini beliau sudah bertemu dengan jodohnya. Ada lagi teman kami yang bahtera rumah tangganya hampir hancur karena tercekik riba, namun setelah bertaubat, alhamdulillah Allah telah menyelamatkan rumah tangganya serta memberinya ganti rezeki yang halal lagi berkah.
Sekali lagi kita membuktikan bahwa sebaik-baik bekal pernikahan adalah takwa. Manakala segala ujian dan badai rumah tangga kita hadapi dengan iman dan takwa, maka Allah yang akan mengganti segala kesulitan dan kegelapan itu menjadi kemudahan yang terang benderang. Kewajiban kita hanyalah bersabar.
Kami pun juga mengalami ujian itu. Dikarunia seorang anak yang mengalami ASD (Autism Spectrum Disorder) kategori ringan-sedang. Tentu tidak mudah bagi kami untuk mendidik seorang anak dengan special need, namun insya Allah kami selalu berusaha memberikan yang terbaik semampu kami. Alhamdulillah, Allah berikan juga kami petunjuk dan kemudahan dalam mendidiknya, hingga mengalami perkembangan yang sangat membahagiakan.
Kami juga pernah terjerat dalam hutang riba. Namun alhamdulillah kami segera bertaubat kepada Allah swt. Rezeki itu pasti, kemuliaan dan keberkahan yang harus dicari. Rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah, tinggal kita mau menjemputnya dengan cara yang halal atau haram. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Masihkah kita memilih hutang riba dibandingkan jalan rezeki lain yang halal nan diberkahi-Nya.
Kami sendiri merasakan setelah bertaubat dari dosa riba, Allah menggantinya dengan rezeki yang jauh lebih baik dan bahkan melebihi apa yang kami butuhkan. Tidak hanya nikmat harta dan sedekah, namun juga kesehatan dan kehidupan rumah tangga yang lebih sakinah ma waddah wa rahmah.
Kami sangat menyadari, ada seseorang yang senantiasa berdoa tak putus-putus di belakang kami, yaitu kedua orangtua kami. Benarlah bahwa ridha Allah itu bergantung pada ridha orangtua, khususnya ibu. Maka berbaktilah pada keduanya, sepanjang masih diberi kesempatan. Mintalah doanya, karena doa beliau amatlah mustajabah. Mintalah maaf pada beliau berdua, atas segala kesalahan dan kekhilafan selama ini. Sungguh amat rugi jika kita masih diberi kesempatan untuk berbakti pada kedua orangtua namun kita malah mengabaikan beliau berdua.
Saat ini kita hidup di era digital, dimana amat mudah bagi kita untuk mengetahui kehidupan orang lain melalui media sosial. Jangan mudah membanding-bandingkan kondisi rumah tangga kita dengan orang lain. Kita tidak tahu apa saja yang sudah mereka lalui untuk bisa menjadi yang kita lihat saat ini. Kita juga tidak tahu barangkali dibalik kesuksesan dan kebahagiaan mereka, ada permasalahan yang tidak ingin mereka tampakkan dan diketahui orang lain. Bersyukurlah atas setiap kebaikan yang Allah hadirkan lewat pasangan dan anak-anak kita. Seraya mendoakan dengan doa yang insya Allah sudah kita hafal, Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata ayun waj’alna lil muttaqina imama.. Semoga keberkahan Allah senantiasa menyertai kita. Aamiin ya Rabb al alamiin..

Bahasa Kasih

_20160731_164850
Bagaimana merawat cinta kasih dalam tali pernikahan agar senantiasa tumbuh, segar, dan berkembang. Salah satunya adalah dengan mencari tahu apa ‘bahasa kasih’ pasangan anda.
Apakah bahasa kasih itu? Dan bagaimana cara mencari tahu tIpe bahasa kasih pasangan?
Dr Gary Chapman dalam bukunya yang berjudul The Five Love Languages telah memaparkan lima kategori bahasa kasih yang terdiri atas :
1. Kata Cinta (Words of Affirmation)
Pasangan yang masuk dalam kategori pertama ini adalah tipe orang yang akan merasa senang apabila mendapatkan apresiasi, dorongan, pujian dan kata-kata penyemangat.
2. Waktu berkualitas (Quality Time)
Pasangan yang masuk dalam kategori ini adalah tipe orang yang suka menghabiskan waktu berkualitas bersama pasangan. Dia akan merasa tidak nyaman ketika tidak ditemani oleh pasangan. Dia akan merasa senang ketika pasangannya menyediakan waktu khusus untuknya, tanpa disambi melakukan hal lain atau membuka gadget.
3. Menerima hadiah (receiving gifts)
Pasangan yang masuk dalam kategori ini adalah tipe orang yang suka sekali menerima hadiah. Bukan karena dia materialistis. Hadiah yang diberikan pun tidak harus barang yang mahal. Dia hanya merasa senang jika menerima perhatian dalam bentuk suatu benda atau sesuatu yang nyata.
4. Melayani (acts of service)
Pasangan yang masuk kategori ini adalah tipe orang yang suka menerima bantuan ataupun pelayanan dari pasangannya.
Bantuan yang diharapkan tidak harus hal yang rumit. Anda cukup berusaha untuk menawarkan bantuan berupa apa saja, terutama saat pasangan terlihat kesulitan entah ketika melakukan pekerjaan rumah, mengasuh anak-anak ataupun saat terlihat kelelahan.
5. Sentuhan fisik (physical touch)
Pasangan yang masuk dalam kategori ini adalah tipe orang yang suka menerima perhatian dalam bentuk sentuhan fisik, seperti pelukan, kecupan, salaman (cium tangan), ataupun belaian.
Nah setelah membaca pemaparan di atas, termasuk kategori bahasa kasih manakah anda dan pasangan. Jika sudah mencoba mencari tahu, namun masih ragu dengan kesimpulan sendiri, boleh saja bertanya langsung pada pasangan supaya clear.

Setelah mengetahui bahasa kasih pasangan, sekarang mari kita belajar mencurahkan bahasa kasih sesuai dengan harapan dan keinginan pasangan. Jika pasangan kita bahasa kasihnya adalah kata cinta, maka diberi hadiah mahal sekalipun dia tak akan tersentuh jika pujaan hatinya tak mengatakan ‘i love you’ misalnya. Atau jika bahasa kasihnya adalah waktu berkualitas, maka hadiah atau surat cinta tidak akan bisa membahagiakannya. Agar lebih jelas, mari kita paparkan lagi sesuai dengan kategorinya.
Jika pasangan anda termasuk dalam kategori bahasa kasih ‘kata cinta’, maka yang harus anda lakukan adalah memberikan ucapan selamat dan apresiasi atas hal kecil yang sudah ia lakukan. Sekecil apapun usaha yang ia lakukan, ketika anda memberikan apresiasi maka akan sangat berdampak besar baginya.
Ketika ia memasak, pujilah masakannya.
“Sayang terimakasih ya, nasi goreng buatanmu enak sekali”.
Ketika ia memijit bahu anda yang pegal, ucapkan terimakasih.
“Sayang, terimakasih ya, sekarang pegalku jadi berkurang”.
Ucapkanlah rasa terimakasih dengan tulus, bukan dengan sambil lalu. Insya Allah pasangan anda akan tersentuh.
Sekali waktu, buatkanlah puisi atau surat cinta untuk pasangan anda. Dia pasti akan sangat menyukainya. Dan jangan lupa untuk sering mengatakan bahwa anda mencintainya.
Pada pasangan dengan bahasa kasih ‘kata cinta’ anda jangan sampai mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaannya. Apalagi melakukan penghinaan yang dapat menurunkan harga dirinya, sekalipun anda hanya bercanda. Jika anda ingin memberikan masukan pada pasangan dengan tipe ini, maka sebaiknya anda memilih kata-kata yang pas dan tidak menyakitkan. Karena salah memilih kata-kata dapat menjatuhkan mental pasangan anda.
Pada pasangan dengan bahasa kasih ‘waktu berkualitas’, anda sebaiknya memiliki couple time yang berkualitas. Jika anak-anak anda masih kecil, maka anda bisa mengkondisikan mereka agar tidur lebih awal, sehingga anda dan pasangan punya waktu untuk berdua sekedar menonton film favorit, mengobrol santai, curhat, atau melakukan hal yang lain.
Jangan sampai anda terlalu sibuk hingga tidak punya waktu bersama pasangan. Juga jangan sampai melakukan long distance marriage, karena akan terlalu berat bagi pasangan anda.
Pada pasangan dengan bahasa kasih ‘menerima hadiah’, maka anda harus mencari tahu kebutuhannya. Jika jam tangannya rusak, anda bisa membelikannya yang baru. Jika kacamatanya retak anda bisa membelikan yang sesuai dengan seleranya.

Jangan sampai lupa memberikan hadiah saat ulang tahunnya atau ulang tahun pernikahan. Bisa jadi dia sangat menunggu-nunggu menerima hadiah spesial dari anda.
Pada pasangan dengan bahasa kasih ‘melayani’, sebaiknya anda peka jika melihat pasangan dalam kesulitan dan segera menawarkan bantuan padanya. Saat pasangan sibuk memasak, sedang si kecil rewel menggelayut pada ibunya, maka anda harus segera mengambil alih si kecil. Atau ketika pasangan merasa kesulitan memasang galon dan tabung LPG, maka anda harus membantunya.
Jangan sampai pasangan anda sedang repot namun anda tidak peka. Asyik membuka gadget, mengerjakan hal lain yang tidak penting atau bahkan tidur-tiduran.
Terakhir pada pasangan dengan bahasa kasih ‘sentuhan fisik’, yang harus anda lakukan adalah sering-sering memberinya pelukan, ciuman, ataupun belaian. Pelukan amat ia butuhkan baik saat senang, lebih-lebih saat ia sedang bersedih. Bahkan dia mungkin juga mengharapkan cubitan gemas dari pasangannya. Sentuhan dari pasangan akan membuat dia merasa nyaman dan bahagia.