Ramadan di Masa Pandemi

Ramadan tahun ini hadir ketika dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Ramadan tahun ini hadir ketika anak-anak bersekolah dari rumah, ketika orangtua bekerja dari rumah, dan ketika keluarga 24 jam berada di rumah saja. Sehingga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan paling syahdu nan khusyuk bagi kami serta bagi keluarga lain tentunya.


Ketika anak-anak tetap bersekolah dan orangtua tetap bekerja di bulan Ramadan tahun sebelumnya, maka amat sebentar waktu orangtua menemani mereka mengaji ayat-ayat Al Qur’an dan menghafalkannya bersama. Kini mereka hadir di sisi kita 24 jam, mulai sahur bersama, mengisi waktu dengan beribadah bersama, menyiapkan hidangan berbuka bersama, hingga tarawih pun bersama-sama dengan seorang imam istimewa yaitu sang pemimpin keluarga. Jelas Ramadan tahun ini merupakan waktu yang amat berkualitas bagi kami, indah dan manis untuk dikenang.


Tak masalah jika Ramadan tahun ini tak bisa datang ke TPA seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena TPA insyaallah sudah bisa orangtua hadirkan di rumah. Tak masalah jika tak ada buka bersama di musholla seperti tahun-tahun sebelumnya, asal bisa buka bersama dengan keluarga tercinta setiap hari.


Pandemi ini seolah mengembalikan lagi peran keluarga khususnya orangtua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ramadan di masa pandemi ini seolah mengembalikan lagi keaslian Ramadan yang penuh makna, tanpa euforia ngabuburit ataupun acara buka bersama yang seringnya malah mengganggu ibadah salat wajib dan tarawih. Bahkan di kampung halaman saya yang biasanya saat malam Ramadan diiringi suara petasan yang memekakkan telinga, kali ini bisa tenang jauh dari kebisingan yang mengganggu kekhusyukan beribadah.
Meski Ramadan tahun ini tak bisa berkumpul bersama keluarga besar, insyaallah tetap bisa melabuhkan rindu lewat telepon dan video call. Meski rasanya berbeda, anggap saja ini pengorbanan kita untuk ikhtiar memutus rantai penyebaran Covid-19. Bayangkan para dokter dan tenaga kesehatan yang saat Ramadan harus menginap di Rumah Sakit, tak bisa pulang untuk sekedar bertemu dengan pasangan dan buah hati. Tetap berpuasa meski harus bertugas di garis depan, dengan mengenakan baju hazmat yang sangat tidak nyaman. Sungguh dibandingkan dengan mereka, pengorbanan kita tidaklah seberapa.


Bersyukurnya kami memiliki empat orang anak yang senantiasa meramaikan rumah setiap hari. Sejak pandemi dan harus stay at home, anak-anak banyak mengisi waktu dengan bermain bersama setiap hari, mulai dari permainan indoor seperti lego, balok susun, play dough, dan play sand hingga permainan outdoor seperti bersepeda, badminton, lempar tangkap bola, main tanah dan air. Sehingga mereka tetap bermain dengan ceria meski hanya di rumah saja.


Ramadan saat pandemi juga momen yang tepat untuk mengajarkan kepedulian dan perhatian pada sesama. Dimulai dari hal yang paling mudah, berbagi takjil dengan tetangga.


Saat pandemi, ada begitu banyak tetangga, saudara, juga orang-orang di sekitar kita yang kehilangan mata pencaharian. Momen ini adalah saat yang tepat untuk berbagi rezeki pada yang membutuhkan. Tidak banyak yang keluarga kami lakukan untuk membantu sesama, hanya sedikit berbagi sembako saja pada yang membutuhkan.


Jika biasanya malam 10 hari terakhir kita beriktikaf di masjid, maka Ramadan kali ini cukup di rumah saja. Menikmati 10 hari terakhir Ramadan di rumah, tentu ada kesenangan tersendiri. Diiringi tingkah polah dua balita kami yang ikut menirukan gerakan salat, naik ke atas punggung saat kami sujud, ataupun menangis minta digendong sambil salat. Semoga momen ini mampu menumbuhkan fitrah iman dalam dada mereka.


Meski pada saat yang sama, masih ada orang-orang di sekitar kita yang berburu baju baru di mall tanpa menerapkan protokol kesehatan dan tanpa mengindahkan anjuran stay at home. Miris melihat masyarakat kita yang lebih mementingkan baju baru daripada ikhtiar untuk memutus rantai Covid-19.


Pada saat yang sama, sahabat saya di Surabaya tengah berjuang melawan Covid-19 yang menyerang dirinya, suami, serta tiga buah hatinya. Menyimak penuturan cerita mereka sekeluarga sebagai penyintas Covid-19, sungguh menggetarkan hati saya. Di bulan suci Ramadan mereka diuji dengan menderita virus ini padahal telah menerapkan protokol kesehatan serta mematuhi anjuran stay at home. Namun mereka ikhlas, pasrah, dan tawakkal menerima ketentuan dari-Nya. Mereka tetap berprasangka baik pada Allah, makin mendekatkan diri pada Allah, memperbanyak tilawah dan bermunajat, serta bersedekah dengan harta yang tak sedikit. Syukur alhamdulillah Allah karuniakan kesembuhan dan kesehatan pada mereka sekeluarga.


Di penghujung Ramadan alhamdulillah kami dapat mengkhatamkan Al Qur’an sesuai harapan, sedih rasanya berpisah dengan bulan mulia di masa pandemi ini. Kehadiran Ramadan begitu menghibur kami di tengah masa karantina ini, meski kami tetap merasa belum optimal dalam beribadah. Semoga Allah berkenan mempertemukan kami kembali dengan bulan mulia ini di tahun yang akan datang.


Buka puasa Ramadan terakhir disambung dengan takbir kemenangan dari rumah kami. Pada malam seperti ini, biasanya kami sudah di kampung halaman. Berkumpul bersama keluarga besar kami yang tercinta, tak terasa air mata menetes di pipi, berharap dapat bertemu dan memeluk orangtua yang dikasihi.


Kali ini tak ada takbir keliling seperti biasanya, tak ada takbir di musholla seperti biasanya, hanya takbir dari rumah dengan pengeras suara seadanya. Namun kesyahduan malam 1 Syawal tetap menghangatkan hati ini, memberi semangat untuk memasak hidangan istimewa seperti yang biasa disantap di kampung halaman. Mencoba menghadirkan suasana lebaran di kampung, sekedar untuk menebus kerinduan yang meluap-luap.


Pagi Idul Fitri pun tiba. Rumah telah bersih dan rapi. Anak-anak telah mandi dan memakai pakaian terbaiknya. Kami menata sajadah di ruang keluarga, bersiap untuk menyelenggarakan salat Idul Fitri di rumah saja. Dimulai dengan takbir bersama-sama, lalu salat dan khutbah dipimpin imam istimewa sang pemimpin keluarga. Sungguh momen yang mengharukan dan menghangatkan hati.


Setelah salat kami saling bermaafan. Tak kuasa menahan air mata yang menetes saat bermaafan dengan belahan jiwa, satu persatu anak-anak mendapatkan peluk cium dan doa yang panjang dari kami orangtuanya. Disusul video call pada keluarga besar kami di kampung halaman, giliran kami yang mendapat karunia doa-doa panjang nan tulus dari orangtua kami. Sungguh video call tak bisa menebus kerinduan kami yang lama tak bertemu. Tapi kami harus patuh pada himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, untuk tidak mudik, semata-mata agar wabah ini segera berlalu.


Kini Ramadan telah usai kita jalani, Idul Fitri pun telah kita rayakan. Meski hanya di rumah saja, meski tak bisa berkumpul bersama keluarga besar tercinta. Ini adalah momen yang tak terlupakan dalam hidup kami. Ada kegembiraan, kehangatan, haru, dan kesedihan yang menjadi satu. Doa kami semoga wabah ini segera usai. Semoga dokter dan nakes yang berjuang di garis depan senantiasa diberikan kekuatan dan kesehatan. Semoga Allah membimbing pemimpin negeri ini agar bisa menyelamatkan bangsa dan negara ini dari wabah dan segala permasalahan yang menyertainya. Aamiin ya Rabbalalamiin.

Belajar di Rumah Tetap Menyenangkan


Tujuh bulan lamanya kita berjuang di masa pandemi. Tujuh bulan pula kita menjalani hidup yang berbeda dari kehidupan sebelum adanya Covid-19. Meski situasi masih belum stabil, di antara kita tetap ada yang harus kembali bekerja. Yang masih sulit untuk dilakukan adalah melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah. Sebab anak-anak dikhawatirkan belum bisa optimal menerapkan protokol kesehatan sehingga amat rentan bagi mereka untuk tertular virus ini. Akhirnya pembelajaran kembali memakai sistem daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh bergantung pada kebijakan sekolah masing-masing. Ada yang diberikan tugas selama seminggu, dikerjakan, kemudian dikumpulkan ke sekolah. Ada yang memakai aplikasi tatap muka secara online, dengan tetap memakai seragam sekolah lengkap sehingga diharapkan anak-anak akan tetap merasa seperti di sekolah belajar bersama dengan teman-temannya. Ada juga yang menggunakan video pembelajaran kreatif buatan gurunya sendiri, kemudian dilanjutkan mengerjakan latihan soal lewat aplikasi. Sungguh saya salut pada bapak ibu guru yang sudah berusaha mengajar dengan sebaik-baiknya, padahal bisa jadi sebelumnya beliau sangat asing dengan aplikasi pembelajaran online, namun beliau mau belajar agar bisa tetap mengajar anak didiknya secara online.

Keberhasilan Pembelajaran Jarak Jauh ini memang tak lepas dari peran orang tua di rumah. Anak-anak yang terbiasa belajar dengan tatap muka, tentu mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran yang disimak secara online. Apalagi jika anak masih di jenjang TK atau SD kelas 1-3. Anak-anak juga cenderung merasa bosan, sebab tak seperti di sekolah yang belajar bersama teman-teman, di rumah mereka harus belajar sendiri. Ada juga yang mengeluh tidak bisa berkonsentrasi saat belajar di rumah, sebab diganggu oleh saudaranya saat sedang belajar.
Ayah bunda yang dirahmati Allah, keadaan pandemi ini memang tidak nyaman bagi siapapun. Anak-anak kesulitan beradaptasi dan rindu dengan guru serta teman-temannya. Guru pun kesulitan menyampaikan materi karena terbiasa dengan metode tatap muka sekarang harus beralih secara online. Orangtua pun mengalami kesulitan saat mendampingi, sebab skill mengajar orang tua tentu tak sepiawai guru, belum lagi kesibukan di rumah tak hanya mengajari anak, masih ada kesibukan rumah tangga lain yang menyita waktu, apalagi jika kebetulan masih memiliki bayi atau balita. Lebih sulit lagi ketika kedua orangtua bekerja, sehingga orang tua baru bisa mendampingi anak belajar saat malam hari, bayangkan betapa lelahnya. Meski begitu keadaan ini tak bisa kita hindari. Anak-anak tetap harus belajar di rumah hingga situasi aman kembali. Karena hak utama seorang anak adalah hak untuk sehat dan dijauhkan dari ancaman virus.
Sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha sabar dan berdamai dengan situasi ini. Ada beberapa tips yang dapat kita terapkan selama Pembelajaran Jarak Jauh ini, agar kegiatan PJJ ini dapat berlangsung dengan lebih menyenangkan dan tentunya anak-anak mendapatkan ilmu dan pemahaman seperti yang kita harapkan.

Memotivasi anak


Banyak di antara anak-anak yang menganggap momen Pembelajaran Jarak Jauh ini seperti liburan panjang, sehingga PJJ dianggap beban, tidak semangat menyimak video pembelajaran, juga tidak suka mengerjakan tugas. Maka yang harus kita lakukan adalah mengobrol dengan anak untuk memotivasi mereka. Tumbuhkan kembali fitrah belajarnya, bangkitkan rasa penasarannya akan ilmu yang dia pelajari hingga ia tertarik untuk mempelajarinya.

AMBAK (apa manfaat bagiku)


Tanyakan kepada anak apa manfaat ilmu ini bagimu. Gali sebanyak-banyaknya. Memang tidak menyenangkan jika belajar matematika hanya melulu mengerjakan tugas. Maka kaitkan pembelajaran itu dengan kegiatan anak sehari-hari. Saat anak-anak membeli kue di warung, tanyakan berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk membayar. Saat anak membuat susu untuk adiknya, tanyakan berapa sendok susu yang dibutuhkan untuk membuat sebotol susu. Hingga anak menyadari bahwa dia memang butuh belajar matematika untuk kegiatan sehari-harinya. Begitupun dengan pelajaran lainnya, kenapa harus belajar sistem perkembangbiakan pada hewan dan tumbuhan. Kaitkan dengan hewan peliharaan yang ada di rumah atau ajaklah anak untuk menanam tumbuhan sendiri.
Ingatkan anak bahwa Allah menyukai anak-anak yang rajin menuntut ilmu dan berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.

Melatih kedisiplinan anak

Bimbinglah anak untuk membuat jadwal harian, dimulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi. Hal ini akan memudahkan anak untuk mengatur kegiatannya seharian. Pastikan anak mandi dan sarapan seperti biasanya, sehingga anak mengikuti PJJ dalam keadaan fresh dan tidak kelaparan.
Saat malam bisa dimanfaatkan untuk muhasabah kegiatan hari ini, berapa jam hari ini sejak anak bangun tidur hingga akan tidur. Jika pada hari tersebut ada kegiatan yang tidak dilakukan, tanyakan pada anak apa kendalanya, dampingi anak untuk menyelesaikan masalah yang dialami.

Dampingi anak saat belajar

Pembelajaran secara daring tentu tidak semudah pembelajaran tatap muka. Maka orangtua harus mendampingi anak guna membantu menjelaskan apa yang tidak dimengerti oleh anak. Kenalilah gaya belajar anak, apakah type visual, auditori, atau kinestetik. Untuk anak visual dan auditori mungkin sudah terbantu dengan tampilan slide dan penjelasan guru di video pembelajaran. Sedangkan untuk anak kinestetik terkadang masih perlu dibantu penjelasan tambahan dari orang tua, sebab anak kinestetik lebih suka pembelajaran langsung.

Ciptakan suasana belajar yang nyaman

Meski belajar dari rumah, sebaiknya tetap menggunakan meja dan kursi. Sebab jika belajar sambil rebahan, anak bisa berkurang konsentrasinya. Beri jeda dari satu pelajaran ke pelajaran lain. Biarkan anak beristirahat sejenak supaya tidak bosan dan stress. Terkadang ada gangguan dari adik yang ingin ikut belajar seperti kakaknya. Orangtua bisa menyiasati dengan memberi kertas dan crayon untuk adik yang ingin belajar juga.

Bekerjasama dengan guru

Ketika mengalami kesulitan saat PJJ, entah ada pelajaran yang tidak dimengerti ataupun masalah teknis lainnya, sebaiknya orangtua berkonsultasi dengan guru pengampu. Pada saat seperti ini orangtua dan guru harus kompak demi memberikan pendidikan yang menyenangkan untuk anak.

Akhir kata semoga pandemi ini segera berlalu sehingga kita terhindar dari ancaman virus dan dapat beraktivitas seperti sebelumnya. Aamiin aamiin ya Rabb.

Manajemen Stress

Bagaimana kabarnya pembaca yang dirahmati Allah? Doa saya, semoga pembaca sekalian senantiasa sehat wal afiat. Tidak hanya sehat fisiknya namun juga sehat psikisnya.
Setelah menjalani masa karantina selama kurang lebih tiga bulan. Beradaptasi dengan ritme bekerja dari rumah serta menjadi guru bagi anak-anak dengan rangkaian tugas sekolah yang tidak sedikit. Tentu ada suka dan duka dalam menjalankannya.

Barangkali tak sedikit juga yang merasa bosan karena hanya di rumah saja, sedang biasanya aktif mengajar, bekerja di kantor, atau mengikuti pengajian di luar. Barangkali juga ada yang mengalami stres akibat permasalahan ekonomi, kesehatan, pengasuhan anak, kelelahan dan lain-lain.

Insyaallah kali ini kita akan belajar untuk mengatasi stres agar tidak berkepanjangan hingga berdampak pada kesehatan serta kebahagiaan diri dan keluarga.

Pertama-tama mari kita pahami dulu definisi tentang stres. Menurut psikolog, stres adalah perasaan tertekan dan terancam sehingga membangkitkan respons atas kejadian atau peristiwa negatif yang dialami. Stres tidak selalu buruk, stres dalam porsi kecil dapat memotivasi melakukan yang terbaik dan bekerja di bawah tekanan.

Stres adalah cobaan. Seperti yang termaktub dalam Al Qur’an surat Al Baqarah : 155 :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Sumber stres ada dua, yakni dari dalam dan dari luar. Sumber dari dalam dapat berupa : pribadi tertutup (introvert), sensitif (mudah tersinggung), ambisius (ingin menyelesaikan semua), perfeksionis (menuntut kesempurnaan), sulit bergaul, pola pikir negatif, dan tidak yakin diri.
Sedang sumber dari luar dapat berupa : bencana alam, ekonomi, hutang, lingkungan keluarga (hubungan dengan pasangan dan anak yang buruk, kekerasan dll), lingkungan pekerjaan (hubungan atasan dan bawahan yang kurang baik, sistem yang buruk).

Reaksi stres dapat dilihat dari gejala-gejala berikut ini :
Gejala kognitif : masalah memori, kesulitan konsentrasi, pengambilan keputusan yang buruk, fokus pada kekurangan, segala sesuatunya negatif, cemas atau pikiran yang dikejar-kejar, terus-menerus khawatir.

Gejala emosional : depresi, tidak bahagia, anxiety dan agitasi, mudah tersinggung dan mudah marah, merasa bersalah terus-menerus, merasa sendiri dan terisolir, serta masalah kesehatan dan gangguan mental lainnya.

Gejala fisik : sakit dan nyeri, diare atau sembelit, mual, pusing, nyeri dada, detak jantung yang cepat, hilangnya gairah, sering masuk angin atau flu.

Gejala perilaku : lebih banyak makan atau kurang, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, menarik diri dari orang lain, menunda atau mengabaikan tanggung jawab, menggunakan alkohol, rokok atau obat-obatan untuk bersantai, kebiasaan gugup seperti menggigit kuku dll.

Bagaimana cara mengatasi stres dalam Islam?
Menurut Susatyo Yuwono (jurnal Mengelola Stres dalam Perspektif Islam dan Psikologi) beberapa cara mengelola stres yang telah diajarkan oleh islam adalah sebagai berikut :

  1. Niat ikhlas
    Islam sudah mengajarkan agar senantiasa berniat ikhlas dalam berusaha, dengan tujuan agar usaha bernilai tinggi di hadapan Allah swt, dan jiwa mendapat ketenangan apabila usaha tidak berhasil sesuai harapan.
    Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At taubah : 91).
  2. Sabar dan shalat
    Orang yang sabar akan mampu mengambil keputusan dalam menghadapi stressor yang ada. Sedangkan melalui shalat kita akan mampu merasakan betul kehadiran Allah swt. Segala kepenatan fisik, masalah, beban pikiran, dan emosi yang tinggi kita tinggalkan ketika shalat secara khusyuk.
    Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 153)
  3. Bersyukur dan berserah diri
    Salah satu kunci dalam menghadapi stressor adalah dengan bersyukur dan menerima segala pemberian Allah swt.
    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Al Baqarah : 156)
  4. Doa dan Zikir
    Adanya harapan yang tinggi disandarkan pada Allah swt, demikian pula jika ada kekhawatiran terhadap suatu ancaman juga disandarkan pada Allah swt melalui doa dan dzikir.Melalui dzikir perasaan menjadi lebih tenang dan khusyuk.
    yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(Ar Rad : 28)
    Menurut psikolog, Retno Prasetyo Ningrum, M. Psi langkah-langkah untuk mengatasi stres adalah The four A’s : Avoid, Alter, Adapt & Accept.

Avoid unnecessary stress
• Berani mengatakan “tidak”. Ketahui batasan Anda dan patuhi itu.
• Hindari orang yang membuat Anda stres.
• Kendalikan lingkungan Anda. Jika berita malam membuat Anda cemas,
matikan TV.
• Kurangi daftar tugas Anda.

Jika Anda tidak dapat menghindari situasi yang
membuat stres, cobalah untuk mengubahnya.
•Ekspresikan perasaan Anda alih-alih mengemasnya.
•Berubah itu mengubah
•Buat jadwal yang seimbang

Jika Anda tidak dapat mengubah pemicu stres, ubah diri Anda. Anda dapat beradaptasi dengan situasi yang membuat stres dan mendapatkan kembali kendali Anda dengan mengubah harapan dan sikap Anda.
•Reframing. Membingkai ulang masalah.
•Lihatlah gambaran besarnya. Ambil perspektif situasi yang membuat stres.
Tanyakan pada diri sendiri seberapa penting hal itu dalam jangka
panjang. Jika tidak penting, tinggalkan.
•Sesuaikan standar Anda. Perfeksionisme adalah sumber utama stres yang
bisa dihindari.
•Berlatihlah berterima kasih. Ketika stres membuat Anda sedih, luangkan
waktu sejenak untuk merenungkan semua hal yang Anda hargai dalam
hidup Anda, termasuk kualitas dan karunia positif Anda sendiri. Strategi
sederhana ini dapat membantu Anda menjaga segala sesuatunya
dalam perspektif.

Accept the things you can’t change
• Jangan mencoba mengendalikan yang tidak terkendali. Banyak hal dalam hidup berada
di luar kendali kita, terutama perilaku orang lain.
• Cari sisi baiknya. Saat menghadapi tantangan besar, cobalah memandangnya sebagai
peluang untuk pertumbuhan pribadi.
• Belajarlah untuk memaafkan.
• Bagikan perasaan Anda.

Ditulis pada bulan Mei 2020